Radiasi Nuklir di Serpong, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Warga Tangerang Selatan dikejutkan dengan ditemukannya bahan radioaktif nuklir di lingkungan Perumahan Batan Indah, Serpong. Bahan radioaktif yang menimbulkan paparan radiasi nuklir di Serpong itu adakah dampaknya bagi kesehatan?

Asal-muasal dan dampak radiasi nuklir di Serpong

Penemuan radiasi nuklir di Serpong berawal saat Bapeten menyisir wilayah Pamulang, Muncul, Perumahan Dinas Puspiptek dan Batan Indah, Kampus ITI, serta Stasiun KA Serpong untuk melakukan uji fungsi terhadap pemasangan alat pemantau radiasi.

Paparan radiasi lingkungan pada sebagian besar wilayah menunjukkan nilai normal. Namun, Bapeten menemukan nilai paparan radiasi di atas rata-rata saat memantau area tanah kosong di samping lapangan voli blok J. Hanya saja, tidak disebutkan berapa besar kenaikan nilainya.

Bapeten lantas bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir (BATAN) untuk menyelidiki asal radiasi nuklir di wilayah selatan Serpong tersebut, termasuk menelusuri dampaknya. Uji laboratorium menunjukkan bahwa salah satu sumber radiasi nuklir berasal dari Cesium-137 (Cs-137).

Cs-137 adalah unsur radioaktif yang dibuat dengan membelah inti atom logam cesium. Unsur radioaktif ini juga dapat muncul sebagai bahan sampingan dari proses pembelahan inti atom pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) atau pengujian senjata nuklir.

Cs-137 dalam jumlah kecil biasanya digunakan untuk kalibrasi alat deteksi radiasi, misalnya pada alat Geiger-Muller. Sementara dalam jumlah besar, Cs-137 digunakan dalam pemeriksaan medis untuk tenaga nuklir atau untuk menghitung ketebalan hasil produksi pada pabrik kertas dan baja.

Hal ini pula yang menjadi petunjuk dalam investigasi asal-usul unsur radioaktif tersebut. Sekretaris Utama Bapeten, Hendriyanto H. Tjahyono, menyatakan bahwa radiasi nuklir di Serpong berasal dari limbah radioaktif, bukan akibat kebocoran reaktor nuklir.

Selaras dengan Tjahyono, Indra Gunawan selaku Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten menyebutkan bahwa limbah mungkin dibuang oleh oknum yang tidak diketahui. Dugaan ini diperkuat dengan adanya sisa serpihan radioaktif yang seharusnya tidak dibuang di sembarang tempat.

Pihak Bapeten menindaklanjuti temuan tersebut dengan mulai mengangkut tanah yang terkontaminasi sejak Minggu (16/2). Mereka kini sudah mengangkut 34 drum berisikan tanah yang terkontaminasi radioaktif. Diperkirakan akan ada total 100 drum yang perlu diangkut.

Limbah radiasi nuklir tersebut rencananya akan dibawa ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) di Serpong untuk dianalisis lebih lanjut. Guna membatasi aktivitas warga sekitar, Mabes Polri memperluas kawasan steril dengan memasang garis polisi.

Apa dampak radiasi nuklir di Serpong bagi kesehatan manusia?

bahaya radiasi

Kebocoran radiasi nuklir bukan pertama kali ini terjadi. Tahun 2011, Jepang mengalami bencana nuklir terparah akibat gempa dan tsunami yang menerjang PLTN Fukushima. Bencana tersebut menyisakan paparan radiasi yang masih bertahan hingga hari ini.

Hal serupa juga pernah menimpa PLTN Chernobyl di Ukraina tahun 1986, tapi kali ini penyebabnya adalah kesalahan saat pengujian sistem. Saking parahnya dampak yang ditimbulkan, peristiwa di Chernobyl disebut-sebut merupakan bencana nuklir akibat kesalahan manusia yang terburuk sepanjang sejarah.

Radiasi nuklir di Serpong memang disebabkan oleh unsur radioaktif yang sama dengan yang ditimbulkan dari bencana Chernobyl dan Fukushima. Meski demikian, paparan radiasi yang dihasilkan jauh lebih kecil dibanding paparan dari kedua PLTN tersebut.

Paparan radiasi Cs-137 dalam jumlah kecil tidak menimbulkan dampak yang berarti bagi tubuh. Sekalipun terdapat di lingkungan sekitar Anda, Cs-137 akan berikatan kuat dengan tanah dan beton serta tidak bisa menyebar jauh di atas permukaan.

Radiasi Cs-137 menjadi berbahaya bila jumlahnya besar dan tidak tersegel dengan baik Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), paparan secara langsung dapat menyebabkan berbagai tingkatan luka bakar, sindrom radiasi akut (acute radiation sickness/ARS), hingga kematian.

Selain itu, sinar gamma dari radiasi Cs-137 dalam jumlah besar juga bisa meningkatkan risiko kanker. Jika terhirup atau masuk ke mulut, Cs-137 dapat memasuki jaringan lunak manusia dan jaringan otot sehingga meningkatkan risiko kanker pada area tersebut. Paparan seperti inilah yang menerjang para pekerja dan pemadam kebakaran yang tiba pertama kali saat bencana Chernobyl dan Fukushima terjadi.

Kabar baiknya, radiasi nuklir yang ditemukan di Serpong diklaim jauh lebih kecil sehingga tidak akan menimbulkan dampak serupa. Namun sayangnya, hingga saat ini tidak disebutkan seberapa besar paparannya. Aparat keamanan saat ini hanya melokalisir area agar masyarakat tidak mendekat.

Apa yang harus Anda lakukan saat terpapar radiasi?

cara mandi yang benar agar kulit putih

Warga sekitar Perumahan Batan Indah, Serpong, diminta menjalani pemeriksaan terkait temuan radiasi nuklir di lingkungan tempat tinggal mereka. Langkah ini bertujuan untuk memastikan apakah warga terkontaminasi radiasi atau tidak.

Kendati terdapat kemungkinan warga terpapar radiasi, Indra Gunawan menegaskan bahwa radiasi tidak akan menyebar luas. Proses pengangkutan yang sedang dilakukan akan mengurangi paparan radiasi secara perlahan.

Paparan radiasi nuklir bukanlah sesuatu yang umum terjadi. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada orang-orang yang lebih rentan terkena radiasi karena tinggal atau bekerja di area industri.

Apabila Anda terpapar radiasi dalam jumlah yang cukup besar, ada beberapa langkah dekontaminasi yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampaknya. Berikut di antaranya:

  1. Segera pergi dari area yang terpapar radiasi.
  2. Lepaskan semua pakaian yang Anda gunakan.
  3. Bungkus pakaian dalam kantong plastik dan jauhkan dari orang lain.
  4. Segera mandi dan keramas hingga seluruh tubuh Anda bersih.
  5. Jika Anda tidak sengaja menghirup atau menelan unsur radioaktif, segera panggil bantuan medis.

Setelah terpapar radiasi, Anda mungkin akan menjalani pemeriksaan fisik, tes darah, dan pemeriksaan dengan alat Geiger-Muller untuk mengetahui lokasi partikel radioaktif. Hasil pemeriksaan akan menentukan penanganan yang Anda perlukan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 18, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 17, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca