Hubungan seks tidak semata-mata hanya melibatkan penetrasi penis ke vagina. Bagi orang-orang gay atau pasangan yang suka “berpetualang”, seks anal bisa menjadi alternatif gaya bercinta yang menggoda. Mungkin Anda sudah familiar dengan yang namanya rimming, alias merangsang lubang anus dengan lidah atau bibir. Terkadang, ada juga pasangan yang saling melakukan seks anal dan oral untuk satu sama lain sebagai teknik foreplay sebelum penetrasi.

Tapi tahukah Anda kalau ada beberapa penyakit menular yang mengintai Anda dari aktivitas seksual ini? Berikut adalah penyakit risiko seks anal yang perlu Anda ketahui.

Bagaimana penyakit bisa menular lewat seks anal?

Seks penetrasi anus berisiko tinggi untuk menyebarkan penyakit kelamin daripada jenis aktivitas seksual lainnya. Pasalnya, lapisan kulit anus lebih tipis dan mudah sobek daripada kulit bagian tubuh lainnya sehingga penetrasi penis bisa merobek kulit anus dan menjadikannya gerbang utama untuk virus infeksi masuk menyerang tubuh. Penyakit kelamin yang bisa ditularkan melalui seks anal termasuk klamidia, herpes, kutil kelamin, gonore, hepatitis B, HIV, dan sipilis.

Akan tetapi bahkan jika kedua belah pasangan tidak memiliki penyakit kelamin, beberapa penyakit “umum” yang disebabkan oleh bakteri atau virus dapat ditularkan melalui variasi seks anal yang berpindah dari anus ke mulut. Misalnya saja gaya 69, rimming lalu seks oral alias blowjob, rimming kemudian berciuman, atau seks penetrasi penis ke anus lalu menerima seks oral. Ini karena ada kemungkinan Anda atau pasangan menelan feses yang terkontaminasi infeksi sewaktu merangsang anus dengan mulut atau lidah.

Ilustrasi seks anal (sumber: shutterstock)

Penyebaran penyakit lewat jalur anus-ke-mulut juga masih bisa terjadi setelah Anda dan pasangan selesai berhubungan seks. Kadang, seks anal dilakukan dengan memasukkan jari ke dalam anus sebagai bentuk stimulasi G-spot pria atau pijat prostat. Ketika tangan Anda sebagai pemberi “servis” menyentuh feses dari anus pasangan selama seks anal dan luput mencuci tangan dengan baik setelahnya, Anda masih dapat menelan feses yang mungkin tertinggal di sela-sela kuku ketika makan nanti.

Penyakit menular yang bisa timbul sebagai risiko seks anal

Penyakit yang bisa ditularkan lewat seks anal-oral (rimming), meliputi:

1. Hepatitis

Hepatitis A dan E merupakan dua jenis hepatitis yang paling sering ditularkan lewat seks rimming. Berciuman atau melakukan seks oral setelah rimming juga bisa menyebarkan virus ini. Pasalnya, jalur utama penularan dari hepatitis A dan E adalah dengan menelan feses yang terkontaminasi oleh virus. Hepatitis pada umumnya tidak menunjukkan gejala berarti pada awalnya, yang mungkin termasuk gejalanya adalah tubuh menjadi kuning, kelelahan, demam, kram perut, hingga nyeri sendi atau otot.

2. Giardiasis

Giardiasis adalah infeksi usus kecil yang disebabkan oleh parasit mikroskopik Giardia lamblia. Parasit ini umum ditemukan pada feses manusia. Mereka bisa bertahan di luar tubuh inang untuk jangka waktu yang lama.

Seks anal, baik penetrasi penis tanpa kondom maupun rimming (anus-ke-mulut), adalah salah satu cara infeksi ini bisa berpindah dari satu orang ke orang lain. Melakukan seks oral setelah anal tidak hanya merisikokan diri Anda menelan E. coli dari anus pasangan Anda, namun juga mentransfer bakteri kepada dirinya ketika berciuman setelahnya sehingga ia juga berisiko mengalami hal yang sama. Gejala giardiasis berupa kelelahan, mual, diare atau kotoran berminyak, kehilangan selera makan, dan muntah-muntah yang muncul satu atau dua minggu setelah terpapar.

3. Tipes

Tipes, atau demam tifoid dalam bahasa medisnya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii dan bisa menyebar lewat konsumsi feses dari orang yang terinfeksi bakteri ini secara tak sengaja. Salah satunya dengan rimming atau melakukan seks oral atau berciuman setelah seks anal dengan orang yang terinfeksi tipes.

Bakteri penyebab tipes bisa bertahan dalam usus inang yang baru selama 1-3 minggu sebelum akhirnya menampakkan gejala. Saat gejala tipes mulai muncul, Anda akan merasakan demam tinggi (±40°C), sakit kepala, nyeri dan sakit otot, kehilangan nafsu makan, diare atau sembelit, sakit perut, hingga lemah dan lesu.

Seks oral setelah rimming berisiko menyebarkan infeksi (sumber: shutterstock)

4. Disentri (shigellosis)

Disentri adalah penyakit usus yang disebabkan oleh shigella, jenis bakteri yang sangat menular. Gejala utama infeksi shigella adalah diare yang seringkali berdarah. Shigella bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan feses yang terinfeksi atau tak sengaja menelannya saat terlibat dalam seks anal rimming. Pria yang berhubungan seks dengan sesama pria memiliki risiko tertinggi untuk mendapatkan infeksi shigella, namun setiap orang yang melakukan rimming bisa mendapatkannya tanpa mempedulikan jenis kelamin atau orientasi seksual mereka.

Gejala lainnya yang mungkin timbul dari infeksi shigella termasuk muntah-muntah, kram perut, demam tinggi (±40°C), dehidrasi, prolaps rektum, hingga nyeri sendi.

5. Infeksi E. coli

E. coli (Escherichia coli) adalah nama kuman yang hidup di saluran pencernaan manusia. Diare yang disebabkan oleh infeksi E. coli juga bisa menjadi salah satu risiko seks anal, baik lewat rimming saja atau ketika berpindah teknik dari anus ke mulut (rimming lalu seks oral alias blowjob, atau rimming kemudian berciuman). Melakukan seks oral setelah anal tidak hanya merisikokan diri Anda menelan E. coli dari anus pasangan Anda, namun juga mentransfer bakteri kepada dirinya ketika berciuman setelahnya sehingga ia juga berisiko mengalami hal yang sama.

Gejala umum dari infeksi E. coli meliputi diare berdarah, kram perut, mual dan muntah. Beberapa orang bisa tidak menunjukkan gejala apapun. Beberapa strain bakteri E. coli juga dapat menyebabkan anemia berat atau gagal ginjal, yang dapat menyebabkan kematian. Strain lain dari E. coli dapat menyebabkan infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya.

6. Amebiasis

Amebiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel satu yang disebut Entamoeba histolytica. Anda bisa tertular penyakit ini lewat rimming ketika menelan feses yang terkontaminasi infeksi atau mengopernya pada pasangan ketika berciuman setelah seks anal pakai mulut.

Gejalanya sering kali cukup ringan, termasuk diare berair, sakit perut, dan kram perut. Bentuk yang lebih parah dari amebiasis kadang menyebabkan feses berdarah dan demam. Pria yang berhubungan seks dengan pria berisiko tinggi untuk terinfeksi amebiasis, namun seringkali mereka tidak menunjukkan gejala.

7. Cacingan

Cacingan adalah satu lagi penyakit yang dapat timbul sebagai risiko penyakit anal dan oral (rimming). Jenis cacing yang biasa ditularkan lewat jalur anus-ke-mulut adalah cacing gelang, cacing pita, dan cacing kremi. Ketiga cacing ini bermukim di usus dan menetaskan telurnya di feses. Anda bisa terkena cacingan ketika Anda tak sengaja menelan feses dari anus pasangan.

Pasangan seks Anda pun sama-sama bisa terkena cacingan ketika berciuman setelah rimming, atau bergantian melakukan rimming pada Anda. Penyebaran cacing juga masih bisa terjadi setelah Anda dan pasangan selesai berhubungan seks anal tapi lupa mencuci tangan, lalu lanjut makan di kemudian waktu.

Selalu gunakan pelindung ketika berhubungan seks untuk menghindari penularan penyakit

Yang perlu dipahami, beragam penyakit menular sebagai risiko seks anal di atas masih bisa terjadi bahkan jika Anda dan pasangan sudah membersihkan lubang anus dengan baik sebelum naik ke ranjang. Ini karena anus merupakan salah satu tempat di tubuh manusia yang secara alami dihuni oleh banyak koloni bakteri. Oleh karena itu, bokong yang bersih pun masih bisa membawa kuman penyebab penyakit.

Risiko seks anal dapat dicegah dengan menggunakan kondom dan/atau dental dam, pelindung mulut khusus untuk seks. Pasangan laki-laki dan perempuan juga harus menggunakan kondom saat penetrasi anal dan menggantinya dengan yang baru sebelum lanjut penetrasi vaginal langsung setelahnya. Hal ini untuk menghindari transfer bakteri dari anus ke vagina, yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca